Juan Pedro Franco, Pria Terberat di Dunia, Meninggal di Usia 41 Tahun

By Shandi March
01 Jan 2026
Pria Terberat di Dunia Juan Pedro Meninggal Akibat Gagal Ginjal. (X@lopezdoriga)
LBJ - Dunia kembali kehilangan sosok yang pernah mencatat sejarah medis global. Juan Pedro Franco, pria asal Meksiko yang sempat dinobatkan sebagai orang terberat di dunia, meninggal dunia pada usia 41 tahun akibat komplikasi infeksi ginjal. Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh dokter yang menanganinya, Jose Antonio Castaneda.
Juan menghembuskan napas terakhir di sebuah rumah sakit di Aguascalientes pada 24 Desember 2025. Kondisi kesehatannya dilaporkan memburuk dalam beberapa hari sebelum wafat, meski sebelumnya sempat menunjukkan kemajuan signifikan setelah menjalani penurunan berat badan ekstrem.
Nama Juan Pedro Franco dikenal luas sejak 2017, ketika Guinness World Records mencatat bobot tubuhnya hampir menyentuh 600 kilogram. Kondisi tersebut membuat aktivitas harian menjadi nyaris mustahil.
Pada usia 32 tahun, ia harus menjalani hidup dengan sebagian besar waktu terbaring di tempat tidur dan sepenuhnya bergantung pada bantuan orang lain.
Baca juga : Empat Influencer dan Aktivis Kritis Terima Teror, Ini Daftarnya
"Tubuh saya hanya mengikuti jalannya sendiri tanpa kendali apa pun," ujar Juan dalam wawancara dengan Guinness World Records, dikutip dari The U.S. Sun.
Di bawah pengawasan ketat tim medis yang dipimpin dokter Castaneda, Juan memulai program perawatan intensif. Ia menjalani pola makan Mediterania berbasis buah dan sayuran, disertai dua tindakan operasi bariatrik berupa gastric sleeve dan gastric bypass.
Perjuangan tersebut membuahkan hasil besar. Dalam kurun waktu beberapa tahun, Juan berhasil menurunkan hampir setengah dari berat badannya. Pada 2019, bobot tubuhnya sudah berkurang sekitar sepertiga dari kondisi awal, dan pada 2023 tercatat berada di angka 259 kilogram.
"Sekadar bisa mengangkat tangan, bangun untuk minum air, atau ke toilet sendiri itu rasanya luar biasa," tutur Juan mengenang perubahan hidupnya.
Baca juga :Meski Disanksi dan Imbauan Berlaku, Kembang Api Tetap Meledak di Bundaran HI Saat Tahun Baru 2026
Meski demikian, Juan tetap menghadapi tantangan kesehatan serius. Selama masa perawatan, dokter mendiagnosisnya dengan diabetes tipe 2, gangguan tiroid, tekanan darah tinggi, hingga penumpukan cairan di paru-paru. Ia juga sempat terinfeksi COVID-19 pada 2020 dan berhasil bertahan meski masuk kelompok berisiko tinggi.
Tim medis menyebut penurunan berat badan membantu Juan kembali bergerak dan menekan risiko penyakit metabolik. Namun, kompleksitas penyakit yang telah lama bersarang di tubuhnya membuat kondisi kesehatannya tetap rapuh hingga akhir hayat.
Para ahli kesehatan menegaskan obesitas memiliki kaitan erat dengan penyakit ginjal kronis. Mengutip Cleveland Clinic, kelebihan berat badan memicu sindrom metabolik yang mencakup tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, serta gangguan lemak darah. Kondisi ini memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring darah dalam jumlah besar, yang dikenal sebagai hiperfiltrasi glomerulus.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, hiperfiltrasi dapat merusak jaringan penyaring ginjal secara perlahan. Selain itu, jaringan lemak berlebih juga memicu peradangan kronis yang mempercepat kerusakan ginjal, terlebih jika disertai diabetes dan hipertensi.
Dokter menekankan bahwa risiko gangguan ginjal tetap meningkat pada individu dengan obesitas, bahkan saat gula darah dan tekanan darah sudah terkontrol, karena beban mekanis dan metabolik pada ginjal tetap berlangsung.***
Update Cepat, Info Lengkap! Join Whatsapp Channel Kami Klik Disini
