×
image

Peningkatan Kasus Gagal Ginjal di Anak, Minuman Manis Jadi Sorotan

  • image
  • By Shandi March

  • 10 Aug 2024

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mencatat fenomena yang mengkhawatirkan, dengan 60 anak menjalani terapi penyakit gagal ginjal di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM), yang dikaitkan dengan konsumsi berlebihan minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). (Ilustrasi:XYZonemedia.com)Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mencatat fenomena yang mengkhawatirkan, dengan 60 anak menjalani terapi penyakit gagal ginjal di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM), yang dikaitkan dengan konsumsi berlebihan minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). (Ilustrasi:XYZonemedia.com)

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mencatat fenomena yang mengkhawatirkan, dengan 60 anak menjalani terapi penyakit gagal ginjal di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM), yang dikaitkan dengan konsumsi berlebihan minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). (Ilustrasi:XYZonemedia.com)Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mencatat fenomena yang mengkhawatirkan, dengan 60 anak menjalani terapi penyakit gagal ginjal di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM), yang dikaitkan dengan konsumsi berlebihan minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). (Ilustrasi:XYZonemedia.com)


LBJ - Pengaruh Minuman Manis Terhadap Kesehatan Anak

Minuman manis terus menjadi topik perhatian di tengah masyarakat Indonesia, terutama mengingat dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan. Dr. Luciana Sutanto, Sp.GK, seorang dokter spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia, menekankan risiko yang berkaitan dengan konsumsi minuman berpemanis terus-menerus.

"Konsumsi terus-menerus minuman berpemanis dapat menyebabkan peningkatan asupan kalori, sehingga meningkatkan risiko obesitas dan penyakit metabolik," ungkapnya dikutip dalam sebuah wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Jumat (9/8).

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mencatat fenomena yang mengkhawatirkan, dengan 60 anak menjalani terapi penyakit gagal ginjal di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM), yang dikaitkan dengan konsumsi berlebihan minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).

Baca juga : Duplikat Bendera Pusaka Tiba di Balikpapan, Sambut Perayaan HUT RI ke-79 di IKN

Baca juga : Serangan Israel Rebut Nyawa Ratusan Warga Sipil di Gaza Saat Tunaikan Salat Subuh

Upaya Pemerintah dan Kebijakan Kesehatan Publik


Dalam rangka mengatasi masalah kesehatan ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengeluarkan imbauan untuk mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis.

Pemerintah telah mengesahkan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2024. Peraturan ini mengatur batasan konsumsi gula, garam, dan lemak dalam makanan dan minuman sebagai langkah pencegahan penyakit kronis.

Dr. Luciana menambahkan bahwa konsumsi minuman berpemanis, baik dalam kemasan maupun tidak, tidak hanya meningkatkan risiko obesitas. Hal ini juga berisiko meningkatkan penyakit metabolik seperti diabetes melitus, kolesterol atau trigliseridemia tinggi, asam urat, dan hipertensi.

Menurutnya, edukasi tentang makan sehat dan pola makan gizi seimbang adalah kunci utama.

"Idealnya, pengetahuan makan sehat berdasarkan Pola Makan Gizi Seimbang sesuai anjuran Pemerintah atau Kemenkes diajarkan di sekolah sejak awal. Edukasi ini juga penting bagi masyarakat umum," ujar Luciana, menekankan pentingnya edukasi sejak dini.

Menkes Budi Gunadi Sadikin juga menyampaikan keprihatinannya mengenai tingginya konsumsi gula di kalangan anak-anak. Hal ini berpotensi menyebabkan penyakit kronis di masa depan.

"Banyak anak sekarang dikasih minum dan makan dengan gula tinggi. Jadi Indonesia suka gula. Padahal gula itu penyebab segala macam penyakit. Mulai dari ginjal, hati, stroke, jantung, itu penyebabnya gula," tutur Budi.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan bahwa sekitar 13 persen dari total populasi di Indonesia, atau sekitar 35,8 juta orang, tengah berjuang dengan penyakit diabetes. Beliau memperingatkan bahwa kondisi ini dapat memburuk jika tidak ada intervensi yang konsisten.

"Itu dialisis, kalau enggak dilakukan penanganan tiap hari, itu bisa jadi penyakit kronis. Ukuran paling gampang, lihat ukuran celana jeans, kalau di atas 34, kemungkinan gulanya banyak," kata Budi.

Dengan demikian, beliau menyerukan agar seluruh lapisan masyarakat, khususnya anak-anak, memulai pengurangan asupan makanan dan minuman yang kaya gula untuk mencegah perkembangan penyakit kronis.***

Update Cepat, Info Lengkap! Join Whatsapp Channel Kami Klik Disini

Popular Post